Tampilkan postingan dengan label Kesehatan/Kedokteran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan/Kedokteran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Maret 2011

UNDENSENSUS TESTICULARIS / UDT ( KRIPTOKIRMUS )


Testis awalnya terbentuk di rongga abdomen pada trimester 3 kehamilan akibat pengaruh hormon gonadotropin dari ibu dan mungkin juga pengaruh dari androgen dan SPM ( substansi penghambat mulerian ) menyebabkan testis turun ke skrotum melalui anulus inguinalis. Penurunan testis ini juga didukung oleh semakin meningkatnya tekanan intraabdomen akibat pdertumbuhan organ-organ di abdomen sehingga mempermudah testis memasuki kanalis inguinalis. Selama proses penurunan tersebut terjadi penonjolan dinding abdomen mengikuti perjalanan testis menuju skrotum. Penonjolan tersebut dikenal dengan prosesus vaginalis sehingga rongga perut berhubungan dengan skrotum melalui prosesus vaginalis. Normalnya dalam tahun pertama kehidupan prosesus vaginalis menutup namun apabila tetap membuka memungkinkan usus untuk turun ke dalam skrotum yang dikenal dengan hernia inguinalis.

Keadaan  UDT paling sering terjadi unilateral yang sering disertai dengan prosesus vaginalis yang tetap terbuka sehingga sering disertai hernia inguinalis.
Etiologi UDT dapat disebabkan oleh produksi hormon androgen ynag abnormal dan defisiensi gonadotropin dari ibu atau beberapa keadaan berikut yang menyebabkan UDT :
  • Arrest testis ( berhentinya penurunan testis di suatu tempat sehingga tidak sampai ke skrotum )
  • Ectopic testis ( testis tidak berada pada jalur desensus fisiologik )
  •  Retractil testis ( testis terdorong kembvali ke atas akubat kontraksi hebat otot-otot skrotum )
Pada UDT testis dapat ditemukan di kranial ( abdomen ) sehingga tidak dapat diraba. Bila terletak di kanalis inguinalis atau di luar anulus testis maka dapat diraba, dan jarang testis ditemukan di femoral, pangkal penis ataupun inguinal.
Testis yang tidak turun menyebabkan perkembangan tubulus seminiferus terganggu sehingga tidak menghasilkan spermatozoa karena pembentukan  spermatogenesis efektif pada suhu agak reendah yaitu di skrotum yang suhunya 1,5-2 0C lebih rendah dibanding abdomen dan juga UDT meningkatkan resiko karsinoma testis.

Penatalaksanaan
Prinsipnya, testis yang tidak turun ke skrotum harus diturunkan ke skrotum.
Sebelum usia 1 tahun diobservasi karena testis dapat turun spontan ke skrotum.
Operasi setelah umur 1 tahun dan sebelum umur 2 tahun ( orcidopeksi)

Sabtu, 12 Maret 2011

Obat Nyamuk,,, Amankah????

Obat Nyamuk
Wilayah Indonesia yang beriklim tropis berpotensi besar terhadap berkembang biaknya berbagai jenis nyamuk yang dapat mengakibatkan penyakit demam berdarah dan malaria. Kondisi ini diperparah dengan belum tertatanya sebagian besar lingkungan pemukiman seperti pembuangan sampah, selokan dan genangan air yang mendorong berkembang biaknya nyamuk. Untuk mengatasi masalah nyamuk tersebut dibutuhkan insektisida (obat anti nyamuk). Dan saat ini telah terdapat berbagai jenis dan merek insektisida untuk menanggulangi masalah tersebut. Permintaan akan obat anti nyamuk tersebut hampir terjadi sepanjang tahun. Tetapi sebagian besar konsumsi pada saat musim kemarau yang merata diseluruh wilayah. Besarnya kebutuhan akan obat anti nyamuk tersebut tentu saja membuka peluang tersendiri bagi industri obat anti nyamuk di dalam negeri (Yusniarini Fitriana, 2002).

Pemakaian obat nyamuk baik yang jenisnya dibakar, disemprot, ataupun yang menggunakan listrik merupakan suatu gaya hidup masyarakat saat sekarang ini untuk menghindari diri dari gigitan nyamuk.
            
 1. Obat nyamuk bakar
Jenis ini mengandung zat kimia sintetik aktif (alletrin, transflutrin, pralethrin, bioallethrin, esbiothrin, dan lain-lain) yang sudah dibentuk sedemikian rupa, sehingga mampu dihantarkan asap untuk membunuh nyamuk dan serangga lainnya. Karena dipanaskan, tak menutup kemungkinan bahan aktif itu terurai menjadi senyawa-senyawa lain yang jauh lebih reaktif dari sebelumnya. Tentu jadi jauh lebih berbahaya dampaknya (Nurheti Yuliarti,2008).
Lebih menyedihkan lagi obat antinyamuk bakar sering digunakan dalam ruang tertutup. Alasannya, menjadi percuma jika digunakan di tempat terbuka. Padahal kalau seperti ini, tentu senyawa aktif dan senyawa baru yang terbentuk dari proses pembakaran berada dalam jangkauan pernapasan kita (Nurheti Yuliarti,2008).
            Jadi, tidak menutup kemungkinan jika kita memasang obat antinyamuk itu semalaman, selama itu pula kita memasukan zat berbahaya ke dalam tubuh. Karena bahan kimia sintetik antinyamuk ini dilepas dalam bentuk gas (aerosol), bisa mendesak oksigen sehingga distribusi oksigen dalam ruangan tidak merata. Tak heran bila kita menggunakan obat antinyamuk bakar dalam ruangan, napas terasa agak berat. Dari fakta ini, ada anggapan obat antinyamuk bakar bisa mengurangi proporsi kandungan oksigen dalam ruangan (Nurheti Yuliarti,2008).
             
2. Obat nyamuk semprot
          Biasa disebut juga dengan obat nyamuk cair yang penggunaannya disemprotkan. Meski bentuknya berubah saat digunakan, tetapi zat aktifnya tidak hilang atau menyatu dengan oksigen karena zat aktif yang disemprotkan lebih berat dari oksigen. Setelah disemprotkan, zat aktif antinyamuk ini akan berjatuhan di setiap tempat dan benda yang ada di rungan tersebut lalu menjadi media penghantarnya masuk ke dalam tubuh (Nurheti Yuliarti,2008).
            
 3. Obat nyamuk listrik (mat)
           Bentuk mat tak jauh berbeda dari obat antinyamuk bakar. Keduanya baru bisa efektif bekerja setelah ada penguapan dengan cara dipanaskan. Obat antinyamuk jenis ini menggunakan juga bahan aktif (seperti allethrin, transfluthrin, atau pralethrin) pada pulpnya, bahan penstabil, dan bahan kimia organik tertentu yang menguap jika dipanaskan. Fungsi bahan organik ini untuk menguapkan atau menghantarkan bahan-bahan aktif antinyamuk sehingga dapat bekerja (Nurheti Yuliarti,2008).
Karena jenis ini tidak kasat mata dan sering ditambah wewangian tertentu. Pengguna sering tidak sadar bahwa dirinya sedang menghirup senyawa berisiko bagi tubuhnya. Pada jenis bakar, karena kasat mata dan sangat terasa, si pengguna bisa menghindari kontak langsung. Juga akan melakukan tindakan melindungi diri, membuka jendela lebar-lebar atau mematikan obat antinyamuk manakala matanya perih atau napasnya makin sesak (Nurheti Yuliarti,2008).
Nah, pada obat antinyamuk listrik, gangguan tidak terasa langsung. Sebab, penciuman tertipu oleh sedapnya wewangian yang dikeluarkan, juga tak menimbulkan iritasi langsung pada mata. Jadi bisa dibilang obat antinyamuk jenis ini lebih berbahaya dari obat antinyamuk lainya (Nurheti Yuliarti,2008).
Seperti halnya obat antinyamuk bakar, obat antinyamuk listrik pun bisa membuat napas kita jadi berat hingga sesak (Nurheti Yuliarti,2008). 

Kandungan Bahan Aktif Obat Nyamuk

Semua jenis obat nyamuk memiliki bahan aktif yang sama, hanya berbeda pada bahan perantaranya. Dari hasil penelitian YLKI, ditemukan tiga bahan aktif dalam obat nyamuk yaitu kelompok organofosfat (antara lain, diklorvos/DDVP), karbamat (antara lain, propoxur), dan piretroid (allethrin, bioallethrin dan transflutrin) (Depkes,2008).
1. Organofosfat (diklorvos)
           Insektisida ini merupakan ester asam fosfat atau asam tiofosfat. Pestisida ini umumnya merupakan racun pembasmi serangga yang paling toksik secara akut terhadap binatng bertulang belakang seperti ikan, burung, cicak, dan mamalia. Pestisida ini mempunyai efek memblokade penyaluran impuls saraf dengan mengikat enzim asetilkolin-esterase (Mariana Riani,2007).
Gejala akut keracunan diklorvos adalah mati rasa, sakit kepala, pusing, hilang koordinasi, tremor, nyeri perut, berkeringat, pandangan kabur, sulit bernafas dan detak jantung lemah (Bennett,2001).
            
 2. Karbamat (propoxur)
             Kelompok ini merupakan  ester asam N-metilkarbamat. Bekerja menghambat asetilkolinesterase, tetapi pengaruhnya terhadap enzim tersebut tidak berlangsung lama karena prosesnya cepat reversible. Pada umumnya, pestisida kelompok ini dapat bertahan dalam tubuh antara 1-24 jam sehingga cepat diekskresikan (Mariana Riani,2007).
Jika terhirup, material ini dianggap tidak menghasilkan iritasi pada pernapasan (seperti digolongkan oleh EC Directives dengan menggunakan binatang percobaanl). Meskipun demikian penghirupan debu atau uap terutama untuk periode yang cukup lama, dapat menghasilkan gangguan saluran pernapasan (Chemcare Asia Indonesia,2007).
Keracunan inhibitor kolinesterase menyebabkan gejala seperti peningkata aliran darah kepada hidung, diare/mencret, gangguan pada dada dan sesak nafas. Gejala lain meliputi produksi air mata yang meningkat, rasa mual dan muntah-muntah, diare, sakit perut, pengeluaran urine tanpa mampu dikontrol, sakit dada, sulit bernafas, tekanan darah rendah, denyut jantung tidak beraturan, hilangnya refleks, kejang-kejang, gangguan penglihatan, pengecilan ukuran pupil, konvulsi kongesti paru-paru, kegagalan jantung dan koma. Efek pada sistem syaraf meliputi kehilangan keseimbangan, sulit berbicara, gemetar pada kelopak mata dan lidah, kelumpuhan otot tangan dan otot saluran pernafasan, yang dapat
menyebabkan kematian, walaupun kematian juga dikaitkan dengan kegagalan
jantung (Chemcare Asia Indonesia,2007).
             
3. Piretroid 
           WHO mengelompokkannya dalam racun kelas menengah. Efeknya, mengiritasi mata maupun kulit yang sensitif, dan menyebabkan penyakit asma. Pada obat antinyamuk, piretroid yang digunakan berupa d-allethrin, transflutrin, bioallethrin, pralethrin, d-phenothrin, cyphenothrin, atau esbiothrin (Depkes,2008).


Daftar Pustaka
  1. Bennett . Dichlorvos, di akses dari http://www.the-piedpiper.co.uk/th13.htm. 2001
  2. Chemcare Asia Indonesia. Hazard alerts: Propoxur saingan dichlorvos yang belum terjamah, di akses dari http://chemcareasia.wordpress.com/2007/03/15/ hazard-alerts-propoxursaingan-dichlorvos-yang-belum-terjamah/. Maret 2007.
  3. DepKes RI. Jangan Asal Semprot, Bahaya…!, di akses dari http://www.depkes.go.id. Novemver 2008.
  4. Fitriana, Yusniarini.2002. Analisis Preferensi Konsumen Obat Anti Nyamuk Semprot Vape dan Implikasinya Terhadap Strategi Pemasaran PT. Fumakilla Indonesia di DKI Jakarta.Tesis, Institut Pertanian Bogor.Raini, Mariana. “Toksikologi Pestisida dan Penanganan Akibat Keracunan Pestisida“, Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Volume XVII no.3 tahun 2007, hlm.10.
  5. Yuliarti, Nurheti.2008. Racun di Sekitar Kita. Yogyakarta : CV ANDI OFFSET.


Kamis, 24 Februari 2011

Beberapa Hal Tentang HIV/AIDS

Penularan HIV/AIDS terjadi melalui cairan tubuh yang mangandung virus HIV yaitu melalui hubungan seksual (baik homoseksual maupun heteroseksual), jarum suntik pada pengguna narkoba, transfusi komponen darah dan dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayi.
Kelompok resiko tinggi HIV yaitu
    • Pengguna narkotik
    • Pekerja sex komersil dan pelanggannya
    • Narapidana  
Infeksi HIV / AIDS telah mengenai semua golongan (risiko tinggi dan masyarakat umum). Kini telah terjadi pergeseran. Dulu kebanyakan penyebarannya karena homosekusual, sekrang lebih banyak karena heteroseksual dan pengguna narkotika yang semakin banyak.
Sejak 1985-1996 kasus AIDS masih amat jarang di Indonesia. Sebagian besar odha pada periode itu berasal dari kelompok homoseksual. Kemuadian jumlah kasus baru HIV/AIDS semakin meningkat dan sejak pertengahan tahun 1999 mulai terlihat peningkatan yang tajam yang terutama disebabkan akibat penularan melalui narkotika suntik.
Sampai dengan akhir Maret 2005 tercata 6789 kasus HIV/AIDS yang dilaporkan (belum tercatat semua). Depkes RI pada tahun 2002 memperkirakan jumlah penduduk Indonesia yang terinfeksi HIV adalah 90.000-130.000 orang.
Fakta yang paling mengkhawatirkan adalah bahwa peningkatan infeksi yang semakin nyata pada pengguna narkotika. Sebagian besar odha yang menggunakan narkotika adalah remaja dan usia dewasa muda yangmerupakan kelompok usia produktif.
Pengguna narkotika suntik mempunyai resiko tinggi untuk tertular oleh virus HIV atau bibit-bibit penyakit lain yang dapat menular melalui darah. Penyebabnya, pengguna jarum suntik secara bersama dan berulang yang lazim dilakukan oleh pengguna narkotika. 1 jarum dipakai oleh 2-15 orang.
Survey disebuah kelurahan di Jakarta Pusat yang dilakukan oleh Yayasan Pelita Ilmu menunjukkan 93% pengguna narkotik yang terinfeksi HIV. Surveilans pada donor darah dan ibu hamil biasanya digunakan sebagai indikator untuk menggambarkan infeksi HIV/AIDS pada masyarakat umum.
Jika pada tahun 1990 belum ditemukan darah donor di PMI yang tercemar HIV, maka periode selanjutnya ditemukan infeksi HIV yang jumlahnya makin lama makin meningkat.
Persentase kantung darah yang dinyatakan teremar HIV adalah:
  • 0,002 % pada periode 1992/1993
  • 0,003 % pada periode 1994/1995
  • 0,004 % pada periode 1998/1999
  • 0,016 % pada tahun 2000 
Ada beberapa jenis program yang terbukti sukses diterapkan di beberapa negara dan amat dianjurkan oleh badan dan Kesehatan Dunia, WHO untuk dilaksanakan secara sekaligus yaitu:
  1. Pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda
  2. Program penyuluhan sebaya (peer group education) untuk berbagai kelompok sasaran.
  3. Program kerjasama dengan media cetak dan medai elektronik.
  4. Paket pencegahan komprehensif untuk pengguna narkotika, termasuk program pengadaan jarum suntik steril.
  5. Program pendidikan agama.
  6. Program layanan pengobatan infeksi menular seksual.
  7. Program promosi kondom di lokalisasi pelacuran dan panti pijat.
  8. Pelatihan ketrampilan hidup.
  9. Program pengadaan tempat-tempat untuk tes HIV dan konseling.
  10. Dukungan untuk anak jalanan dan pengentasan prositusi anak.
  11. Integrasi program pencegahan dengan program pengobatan, perawatan, dan dukungan odha.
  12. Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dengan pemberian obat ARV

Selasa, 22 Februari 2011

HIPOSPADI


Suatu kelainan bawaan dimana meatus uretra eksterni terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal pada ujung glands penis.
Epidemiologi :
  • Di US rata-rata hipospadia 1:350 kelahiran bayi laki-laki
  • Di Kolumbia 1:225 kelahiran bayi laki-laki
  • Di Indonesia, berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik tahun 2000, rasio hipospadia ± 1:300-350.
  • Prevalensi juga dipengaruhi oleh faktor ras dan geografis dimana ras kaukasoid lebih tinggi dari pada orang afrika.
Etiopatogenesis
Hipospadia terjadi karena gangguan perkembangan uretra anterior yang tidak sempurna sehingga uretra dapat terletak di sepanjang batang penis sampai perineum. Semakin proksimal letak meatus uretra eksterna semakin besar kemungkinan ventral penis memendek dan melengkung karena adanya cordea ( jaringan ikat ).
Hipospadia terjadi karena kekurangna androgen (testosteron ) atau kelebihan estrogen pada proses maskulinisasi masa embrio. Androgen dihasilkan oleh testis dan plasenta, defisiensi androgen dapat disebabkan oleh involusi sel-sel interstisial pada testis yang sedang tumbuh. Akibat defisiensi androgen dan testosteron terjadi penurunan produksi dehidrotestosteron ( DHT ) yang dipengaruhi oleh enzim 5α reductase. DHT dibutuhkan dalam jumlah cukup untuk pembentukan genitalia eksterna sehingga defisiensi DHT akan menyebabkan kegagalan pembentukan bumbung uretra sehingga menimbulkan hipospadia.
Berdasarkan letak OUE ( orifisium uretra ekasterna ) maka di temukan :
  1. Hipospadia tipe glans ( letak anterior, 60-70% kasus )
  2. Hipospadia tipe coronal ( letak anterior, 60-70% kasus )
  3. Hipospadia tipe penil ( letak midle ( 10-15 % ) )
  4. Hipospadia tipe penoskrotal ( letak posterior, 20% kasus )
  5. Hipospadia tipe perineal ( letak posterior, 20% kasus )
MCDP ( Metropolitan Congenital Defectus Program ) membagi hiposapdia atas 3 derajat :
  1. Derajat I : OUE terletak pada permukaan ventral glans penis dan atau korona galns.
  2. Derajat II : OUE terletak pada permukaan ventral corpus penis
  3. Derajat III : OUE terletak pada permukaan ventral skrotum atau perineum.
Biasanya derajat II/III diikuti oleh melengkungnya penis ke ventral karena terdapat cordae akibat terlalu pendeknya kulit pada permukaan ventral penis sehingga akan mengganggu aliran normal urin dan fungsi reproduksi.
Penatalaksanaan
Ada 4 hal yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan repair hipospadia yaitu :
  1. Usia  ( usia ideal untuk repair hipospadia adalah usia 6 bulan sampai usai prasekolah memprtimbangkan faktor psikologis anak terhadap tindakan operasi dan kelainannya itu sendiri )
  2. Tipe hipospadia dan besarnya penis ( semakin kecil penis dan semakin ke proksimal letak OUE semkain sukar tekniknya )
  3. Ada tidaknya cordea
Prinsip repair hipospadia :
  1. Chordectomi untuk meluruskan penis kedepan, biasanya dilakukan pada usia bayi
  2. Uretroplasty untuk membuat OUE di ujung glans penis sehingga pancaran urine dan semen bisa liris kedepan. Biasanya dilakukan sebagai tahap dua setelah chordectomi. Waktunya saat anak uisa 2-4 tahun. Pada tahap ini neouretra biasanya dibuta dari kulit preputium penis atau skrotum karena kulit preputium merupakan bahan terbaik untuk uretroplasty sehingga pada hipospadia sirkumsisinya dilakukan sambil melakukan rekontruksi uretranya.